Seputar Sumatera Barat

Road to Bukittinggi

Pernah ke Padang? Pernah. Ke Bukittinggi? Belum. Berarti anda belum ke Sumatra Barat. Lha, kok gitu. Padahal, Padang kan ibukota Sumatra Barat.
Hmm,……. tenang tenang, calm down. Ungkapan seperti ini kadang memang terdengar. Tidak ada yang salah dengan Padang, tapi…..hal semacam inilah yang diungkapkan orang, menggambarkan ‘pentingnya’ untuk mengunjungi kota Bukittinggi. Terlalu berlebihan? Tidak juga ( lho, kok dijawab sendiri :) ) Tapi ya, gitu. Mungkin karena panorama alamnya yang cantik, hawanya yang sejuk, membuat banyak orang mesti mampir dan betah menghabiskan waktu berlama-lama di kota ini saat berkunjung ke Sumatera Barat. Letak geografisnya yang berada di jalur antar lintas Sumatra memperkuat posisi Bukittinggi sebagai salah satu tujuan utama wisata.
Trus, gimana caranya bisa sampai ke kota Bukittinggi? Gampang. Naik pesawat aja ke Padang, Sumatra Barat, mendarat di Minangkabau International Airport. Dari bandara, yang paling gampang adalah nyarter taksi untuk ke Bukittinggi, sampai deh. Ongkosnya paling 300 rb/mobil. Tapi kalau mau ngirit sekalian ‘bertualang’, bisa naik bis ¾ merek Tranex, ongkosnya 20 rb/orang. Kalau mau murah lagi, naik mobil Fren…..Yap, nebeng gitu loh, ama teman.
Ntar dulu, emang gak ada terminal apa ? Ya ada sih, tapi kejauhan. Nggak recommend deh. Oya, alternatif transportasi lain ke Bukittinggi adalah naik mobil travel ( mobil travel ini adalah mobil plat hitam yang dijadiin mobil penumpang, mis: Avanza, Innova, Arena, dll). Ongkos 25 rb/orang, AC . Karena persaingan usaha angkutan, mobil travel kadang dilarang beroperasi di kawasan bandara. Namun ada juga yang bisa masuk, menyamar diantara mobil pengantar/penjemput penumpang pesawat di area parkir Tapi kalau misalnya nggak ada mobil travel di bandara, bisa naik bus Damri aja dulu untuk keluar kawasan bandara menuju arah pusat kota Padang untuk mencari mobil travel untuk ke Bukitinggi. Bilang ama driver Damrinya, nanti turun di Basko Grand Mall – disingkat aja jadi BGM ( bukan Bakso lho ). Dulunya, Basko Grand Mall ini namanya Minang Plaza, jadi kalaupun disebut Minang Plaza, semua warga Padang termasuk driver apalagi akan mahfum dan mengangguk tandanya ngerti. ( kalo di Jakarta, menggeleng tanda nggak ngerti ).

Baca Selengkapnya…


Jam Gadang, “Land Mark” Kota Bukittinggi

Menjulang dengan ketinggian 26 meter dari permukaan tanah, Jam Gadang berdiri kokoh di pusat Kota Bukittinggi. Tiada kata lain, hanya kekaguman saat berdiri di lokasi kebanggaan penduduk negri. Lega rasanya hati. Terbayang masa kecil saat bermain di kawasan jam Gadang ini ( halah..). Tapi semua benar adanya. Apalagi areanya keliatan udah agak bersih. Syukurlah. Pohon-pohon besar sepertinya dikurangi biar daunnya nggak bikin sampah. Pandangan pun lebih lapang. Kalau kita layangkan pandangan ke sisi utara, tetap akan kelihatan Pasar Atas. Lokasi Jam Gadang sendiri juga tidak jauh dari Lobang Jepang, yaitu lobang/gua yang dibuat pada penjajahan Jepang sebagai tempat persembunyian saat perang. Ini sekarang juga merupakan objek wisata. Warga Bukittinggi menyebutnya Lubang Japang. Yang menggalinya tentu saja orang Indonesia yang dipaksa dibawah ancaman senjata, digali hingga tembus ke dinding Ngarai Sianok. Konon kabarnya, Lobang Jepang juga melewati dasar bangunan Jam Gadang. Dulu saya sempat masuk ke Lobang Jepang, saat masih SD, bareng teman-teman. Sudah lama memang. Tahun 2008 kemaren, berniat masuk lagi, tapi nggak jadi. Perasaan nggak enak saat memasuki mulut gua dan menuruni tangganya yang cukup dalam ke perut bumi. Merinding. Padahal dulu nggak apa-apa.
Dimensi jam dari Jam Gadang adalah 80 cm. Dan dalam pembangunannya, Jam Gadang telah menghabiskan dana konstruksi sebesar 3000 Gulden.
Kalau diconvert ke rupiah berapa tu ya. Tapi pada zamannya, jumlah 3000 Gulen tentulah angka yang lumayan besar. Bahagian atas / atap bangunan telah mengalami 3 kali penyesuaian seiring pergantian waktu. Yach, tergantung penguasanya saat itu:

Baca Selengkapnya…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.