Tetap waspada di dalam ruangan ATM
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan pulang ke Bukittinggi. Senang rasanya kembali berada di kampung halaman. Pada keesokan harinya saya ada keperluan untuk mengambil sejumlah uang ke ATM BCA yang berada di samping RM Simpang Raya, Aur Kuning. Hari masih sore dan banyak orang lalu lalang di sekitar ATM. Ya, daerah ini memang kawasan ramai, karena berdekatan dengan pasar Aur Kuning. Sampai di depan ATM, ternyata tak ada antrian. Syukurlah. Buka pintu ATM dan tutup kembali. Terlebih dahulu memeriksa apa ada kelainan atau sesuatu yang janggal pada tempat memasukkan kartu. Setelah yakin semua oke, kartu dimasukkan dan transaksi / penarikan uang pun dimulai. Ada 2 kali penarikan uang saya lakukan. Sudah menjadi kebiasaan, selama mesin ATM melakukan penghitungan uang, saya menoleh ke belakang, siapa tahu ada yang tidak beres. Sekedar berjaga-jaga. Saat itulah saya lihat ada seorang bapak, mungkin umurnya sekitar 45-50 tahun, menempelkan wajahnya ke dinding kaca ATM dengan tangan disamping mata, melihat tajam ke dalam ATM. Karena dari awal masuk ruangan pikiran saya memang sudah diset untuk hati-hati, saya balik menatap matanya. Tapi karena uang sudah keluar dari ATM, terpaksa saya ambil dulu, daripada ditelan mesin, malah bisa berabe. Pada penarikan kedua, saya lihat ternyata bapak tersebut masih menempelkan wajahnya ke kaca. Saya balikkan badan, tak liatin terus, baru dia mundur dan wajahnya menjauh dari dinding kaca. Hati udah nggak enak.
Transaksi selesai, mau berbalik, si bapak nongol didepan pintu. Dia menanyakan apa bisa membantunya karena dia mau menggunakan ( kalau tidak salah ) kartu BII di ATM BCA dan berbahasa Inggris. Ya udah, tidak ada salahnya membantu. Si bapak masuk, dan 1 orang laki-laki lain yang ikut ngantri sekarang berada dekat pintu. Memang benar, menunya berbahasa Ingggris. Setelah berhasil diganti ke bahasa Indonesia, si bapak minta diajarkan untuk melakukan penarikan uang . Saat saya mencari menu penarikan, laki-laki yang berada di dekat pintu mendikte saya dalam memilih menu. Dan ini terus dia lakukan.
Feeling saya nggak enak. Mode siaga 1: ON. Ini bisa saja berujung pada hipnotis. Apalagi sebelumnya si bapak mengintip saat saya melakukan penarikan uang dari mesin ATM. Ruang ATM tidak terlalu besar, posisi berdiri saya saat itu adalah dekat pintu dan salah satu kaki menahan pintu agar tetap terbuka. Akhirnya saya ambil keputusan dan katakan ke si pendikte untuk langsung membantu si bapak karena saya ada keperluan lain yang mendesak, dan langsung keluar dari ruangan ATM.
Sampai di luar, lega rasanya. Seolah-olah tadi memikul beban yang berat. Saya tidak tahu, apakah kejadian di dalam ruangan ATM itu memang bagian dari usaha menghipnotis atau tidak. Dimana kita dituntun untuk melakukan apa yang diperintahkan penghipnotis. Bisa saja karena transaksi dengan kartunya tidak berhasil, mereka akan minta untuk coba menggunakan kartu ATM BCA saya, untuk memastikan mesin ATM tidak rusak. Ujung-ujungnya, ya hipnotis. Atau mungkin ini hanya prasangka saya saja? Wallau’alam bissawab. Yang jelas saya bersyukur bisa melewatinya.
komen orang-orang pilihan