Menjulang dengan ketinggian 26 meter dari permukaan tanah, Jam Gadang berdiri kokoh di pusat Kota Bukittinggi. Dengan diameter jam 80 cm dan menghabiskan dana konstruksi sebesar 3000 Gulden saat dibangun, bahagian atas / atap Jam Gadang ini telah mengalami 3 kali penyesuaian seiring pergantian waktu:

Pada Masa Belanda:
Atap berbentuk bulat dan diatasnya terdapat patung ayam jantan

Pada Masa Jepang :
Atap berbentuk Klenteng ( seperti rumah ibadah China )

Masa Indonesia Merdeka sampai sekarang :
Atap dirobah berbentuk Rumah Adat Minangkabau

Kalau wistawan jeli dan memperhatikan saat berkunjung , ada hal yang beda dan unik dari kaedah angka Romawi pada “angka” 4 di Jam Gadang ini.

( Gambar diambil hari Sabtu, 18 Oktober 2008 jam 17.20 )